*

*
carlocaione.org —
*

*
*
carlocaione.org

Title: Liar Crier ~Side Yuto~Author: carlocaione.orgSummary: Nakajima Yuto adalah orang bodoh. Sampai di atas ia terus mencoba mempertahankan perannya were orang bodoh.

Anda sedang menonton: Cara agar suara keras dan lantang

Pairing: Nakajima Yuto x Okamoto KeitoGenre: AngstDisclaimer: Hey! Say! run members belong to Johnny & Associates. Liar Crier and SolidS belong come Tsukino Production.. .
<— 中島裕翔編 —
>Aku adalah rakyat bodoh.

Lihat lainnya: Cara Upload Foto Di Instagram Tanpa Crop, How To Upload And Adjust Photos

.Setidaknya itulah yang aku pikirkan sekitar diriku sendiri. Aku memang tak begitu pintar batin sebagian besar pelajaran, dan terutama noël terlalu pintar di dalam memahami perasaanku sendiri.Misalnya di hari itu, sahabatku sedang menangis tersedu-sedu di hadapanku. Saat menemani itu umurku baru 14 tahun. Aku tak begitu dipahami situasinya, tapi aku yakin pasti perceraian orang tua adalah masalah yang sangat berat terutama untuk bocah lelaki umur 14 tahun. Ada rasa sakit di dadaku saat aku melihatnya menangis such itu. Aku tak berwewenang melihatnya sedih, aku hanya ingin itu tersenyum.Dengan sedikit ragu, aku menariknya nanti dalam pelukanku. Aku menunggu pemfitnahan saat, menanti responnya. Ia tak mendorongku. Aku rasa siapapun pasti membutuhkan bahu untuk bersandar di saat kemudian ini, bukan? “Keito, kau boleh menangis sepuasmu sekarang, oke? Aku ini adalah menemanimu.” hanya itu apa bisa aku katakan padanya sambil mengusap rambutnya dengan canggung. Keito tak menjawab, hanya terus menangis sampai matanya sedikit bengkak.Aku masih bisa pulih dengan jelas rasa sakit di dadaku saat lanskapnya Keito menangis, dan rasa lembab saat Keito menyandarkan dahinya nanti bahuku. Di atas saat menemani itu aku masih belum tahu apa namu perasaan ini, apa aku tahu hanya aku merasa nyaman bersama dengannya dan merasa ingin selalu membuatnya tersenyum.Itu adalah kejadian bertahun-tahun yang lalu, aku yakin Keito pasti cantik melupakan kejadian itu. Atau bisa tidak? Entahlah..Beberapa lima setelah kejadian itu, aku always menganggap Okamoto Keito seperti sahabatku. Kita saling berbagi berbagai hal—senang, sedih, marah, kecewa, segalanya. Tanpa aku sadari, itu telah dulu sosok apa sangat berarti untukku. Apalagi kami memang selalu bersekolah di sekolah yang sama sejak SMP sampai SMA. Rasanya tak ada bab apapun yang tak dia tahu tentangku.Atau bisa ada?Aku awal menyadari ada hal apa berbeda saat kami memasuki semester kedua di kelas 1 SMA. Keito bercerita sekitar sepucuk surat cinta apa ia untuk menang dari seorang siswi dari kelas lain. Namun ia tak langsung mengatakan jawaban apa akan ia berikan pada sang pengirim surat. Aku tak bisa ~ melupakan perasaanku saat itu. Kesal, takut, marah, frustrasi, bingung, sedih—rasanya semua bercampur dulu satu. Tapi untuk aku adalah orang yang bodoh, aku tak segera sadar perasaan what itu. Butuh waktu bagiku untuk menyadari bahwa aku tidak just menganggap Okamoto Keito just sebagai sahabatku.Tapi apa yang dilakukan si menjuluki ini? Dia hanya berpura-pura tak terjadi apapun. Ya, aku hanya berusaha mengubur perasaanku dan meyakinkanku bahwa kita lebih baik tetap menjaga persahabatan kalian saja. Meskipun kadang rasanya melelahkan. Aku harus berusaha menyembunyikan perasaanku, berlagak seperti orang bodoh—seperti people lain agar dia noel menyadarinya.Kadang rasa aku bisa gila jika harus selalu berpura-pura sebagai ini. Tapi memang buat aku adalah orang bodoh, aku terus bertahan. Tak apa, origin masih bisa dulu teman di sisinya, bagiku akun itu cukup..Hari ini, aku sedang berkumpul mencapai Yamada, Chinen, dan Keito. Kalian berencana menjadi menginap di rumah Yamada. Aku mungkin merasakan seseorang terus menatap setelah arahku. Awalnya aku mencoba untuk mengabaikannya, tapi aku terus merasakan tatapannya. Asibe aku sanggup menebak tatapan siapa apa sejak tadi terarah padaku, aku gerbong bertaruh menemani itu adalah sahabatku, Keito..Sebentar.Sahabat?Ya, aku harus berterima kasih di atas kebodohanku sehingga kita masih bisa bersahabat sampai sekarang..Aku melirik padanya. Tepat kan? Ia pemandangan padaku lagi, mengabaikan Yamada yang sejak tadi sedang berbicara. Tanpa sadar senyum terbentuk di bibir tipisku. Keito langsung mengalihkan tatapannya. Hm? apa tadi aku pemandangan semburat merah di pipinya? Meskipun konvensional ekspresinya serius, kadang ia bisa bersinar sangat kikuk, benar-benar lucu.Aku sumbu pohon mengalihkan perhatianku back pada Yamada dan Chinen yang sudah kembali membicarakan rencana kami. Aku tak mau terlalu kerumunan memerhatikan Keito, tak mau usaha si menjuluki ini untuk mempertahankan masyarakat kami menjadi sia-sia..Sejujurnya meskipun aku selalu meyakinkan diriku buat tetap bertahan di ~ hubungan komuni ini, tapi ada kalanya also si membungkuk ini merasa lelah. Sebelumnya, berkali-kali aku berpikir buat menyampaikan perasaan ini, tak peduli apapun nanti apa terjadi. Namun biasanya aku urungkan kembali niat itu.Hari ini rasa lelah akun itu menghantui kembali. Aku menghela nafas berbohong sambil penampilan sepotong langit yang tampak dari balik jendela kamarku apa setengah terbuka. Langitnya cerah, tak ada satupun awan, sehingga aku bisa melihat bintang-bintang berkelip viip di sana. Rasa ingin aku berteriak, meminta ribuan bintang itu karena mengambil setiap orang perasaanku. Tapi tentu saja tidak bisa kan?Akhirnya aku putuskan buat mengambil ponselku. Layar ponselku menampilkan satu nama, Okamoto Keito. Maafkan saya si menjuluki ini harus saya suka usaha apa sudah ia terjaga bertahun-tahun? atau haruskah ia tetap meneruskan perannya seperti si bodoh, sahabat Okamoto Keito? Aku teringat terkadang Keito terlihat noël merasa nyaman saat bersamaku—atau memang karena dia sedang ada masalah? maafkan saya dia juga merasakan hal apa sama dengan yang kurasakan? Kalau Keito pun merasakan hal yang sama, what mungkin lebih baik aku mengatakannya saja?.Sesaat kemudian yang aku tahu aku siap mendengar suara Keito di ujung sambungan telepon. Aku sebisa bisa berusaha menyembunyikan segala perasaanku dan mencoba sounds seceria mungkin—seperti biasa, “Keito! apa kau siap tidur?”“Belum, aku hanya sedang—”Aku cantik bisa membayangkan itu pasti sedang berdiri jatuh pada ranh pembatas di balkonnya, melihat pemandangan malam, sambil thought apapun hal yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.“Biar kutebak, di balkonmu, lihat pemandangan malam?” Keito tak menjawab. Lagi-lagi aku mungkin membayangkan ekspresi kagetnya. “Pasti kau bingung mengapa aku sanggup tahu, kan? Kau dulu pernah bilang kalau kau sering melakukannya kalau sedang ada ingat atau masalah,” jelasku sambil tertawa.“Hmm... Jadi, ada what Yuto?” meminta Keito.Dia selalu seperti itu, tipe orang yang noël begitu suka basa-basi. Bertanya sederhana apa dilontarkan Keito membuatku harus buru-buru menelan rasa gugupku. Dan batin waktu apa singkat, aku harus diputus apakah aku menjadi tetap dulu si membungkuk sahabat Okamoto Keito atau resiko persahabatan kami?“Hanya memastikan kau noël apa-apa. Rasanya akhir-akhir ini kau terlihat such ada masalah.”Aku memutuskan karena tetap dulu si bodoh sahabat Okamoto Keito.“Aku noël apa-apa, Yuto. Terima kasih cantik bertanya.”“Begitu? Syukurlah. Kau bisa ~ bercerita padaku kapanpun kalau kau mau, oke?” hanya itu apa bisa kukatakan. Aku menatap bintang-bintang yang berkelip. Rasa mirip denganmu, indah tapi tak ini adalah bisa tergapai malalui tanganku.“Un, terima kasih, Yuto.”“Ah, apa aku mengganggu? Kau sudah mau tidur?”“Ya, aku sudah mulailah mengantuk.”“Maaf ya mengganggumu.” Sejujurnya aku benar-benar merasa tidak enak padanya. Aku cantik membuang-buang waktunya percuma, hanya karena aku adalah si bodoh yang pengecut.“Keito, pokoknya kalau kau membutuhkan orang untuk mendengarkan keluh kesahmu, kau mungkin menghubungiku, oke?” kataku canggung. “Kita modernkan sahabat!”Bodoh sekali. Untuk apa aku mengatakan tiga kata itu? Benar-benar bodoh.“Terima kasih, Yuto.” Aku mungkin mendengar suara Keito sedikit tercekat—atau itu hanya perasaanku saja? Entahlah aku tak tahu. Yang aku tahu hanya sambungan telepon secepatnya terputus usai itu..Apa mencapai begini hubungan kita masih bisa ~ tetap disebut sebagai sahabat? Padahal aku membohonginya, padahal aku menyembunyikan perasaanku darinya. Maaf, aku tak bisa menanyakannya padamu, biarkanlah itupenggunaan tetap kemudian ini silam suatu saat nanti kita berpisah di cara masing-masing.Hei, Keito, bolehkah aku berharap? Jika nanti kau mengeksplorasi orang yang kau sayangi, jangan pernah bersikap bodoh dan membohongi perasaanmu individu sepertiku. Kau harus bisa senang dengan orang yang kau sayangi, siapapun itu....Liar Crier done!!!!!Jadi tale side Yuto ini aku buat sebagai cerita yang saling melengkapi sama cerita side Keito. Bukan prekuel ataukah sekuel untuk mau berpengalaman dengan urutan yang terbalik pun ga ada masalah. Aku apa ngetik tapi akhirnya aku juga yang greget hahahaha. Pengen patpat Yuto kemiripan Keito di sini, maaf ya kita berdua.Kaya yang aku bilang sebelumnya, Liar Crier ini akibat itu terinsipirasi dari lagu yang judulnya sama apa dinyanyiin kemiripannya idol team 2D bernama SolidS. Ada beberapa potongan kalimat dari lagu itu apa aku ambil persis dari lagunya tapi ada juga beberapa yang aku untuk mengambil intinya aja. Mungkin untuk yang penasaran sama lagunya, mungkin sambil di-googling juga ya.