Pulau sumatra secara topografi terdiri dari dataran rendah, perbukitan dan pegunungan. Topograpi ini membangun kerumunan sungai, sehingga sumatera dapat berpendapatan “Pulau seribu Sungai”.

Anda sedang menonton: Nama nama sungai di sumatera

Selama ratusan atau ribuan tahun, sungai-sungai ini telah membentuk berbagai kesukuan dan bahasa di Sumatera sejak masa purba, hingga melahirkan kawanan kerajaan besar, sebagai Kerajaan Melayu, Kedatuan Sriwijaya, empire Darmasraya, empire Minangkabau, serta sejumlah kesultanan.Keberadaan puluhan sungai besar di sumatera kini terancam buyar atau hilang akibat aktivitas ekonomi ekstraktif, illegal logging, such perkebunan skala besar, penambangan, pembangunan infrastruktur, baik di wilayah dataran tinggi maupun rendah. Dibutuhkan upaya menyelamatkan sungai-sungai di Sumatera, baik melalui pengetahuan sekitar identitas masyarakat Sumatera terkait sungai, dan upaya pasangan dengan sungai mencapai berbagai kegiatan atau tindakan.

 

Pulau sumatra luasnya mencapai 44.306.500 hektar. Pulau keenam terbesar di dunia nanti Greenland, new Guinea, Kalimantan, Madagaskar, dan Baffin. Topografi pulau ini himpunan dataran rendah, perbukitan, dan pegunungan. Pulau ini pun dikenal sebagai “Pulau ribu Sungai”.

Pernyataan “Pulau ribu Sungai” disampaikan Gusti Asnan dalam bukunya “Sungai dan sejarah Sumatera <2016>”. Ungkapan tersebut karena hampir semua kanton di pulau Sumatera terdapat sungai. Apakah sungai besar, sungai kecil, serta aliran.

Penyebutan struktur sungai di sumatra digambarkan sebagai sebuah pohon. Batang , dahan , cabang , ranting , tangkai , dan tampuk .

Namun, tulis Gusti, sedikit sekian buku apa membahas kyung sungai-sungai di Sumatera. Di masa kolonial Belanda, para pengelana atau penulis buku seperti Maas <1905>, Kohl <1914>, Lekkerkerker <1916>, Schrieke <1925>, Bosch <1930>, Parada harapan <1927>, dan Loeb <1935>, lebih ditekankan dinamika politik, keeksotisan alam, budaya dan masyarakatnya. Juga, potensi ekonomi pulau Sumatera batin pengembangan perkebunan, pertanian, dan perdagangan. Sungai-sungai nyaris tidak diungkap.

Baca: Kejayaan Bahari dan Kesadaran apa Hilang merawat Sungai Musi

*
Masyarakat yang hidup di pinggiran Sungai musi di Palembang, sumatra Selatan. Foto: Nopri Ismi/carlocaione.org Indonesia

Setelah kemerdekaan, para penulis “daerah-sentris” macam Dali Moetiara <1946>, Ismail Yacarlocaione.orgeb <1946>, hingga Muhammad Ibnu Ibrahim <1977>, nyaris noël mengungkapkan kyung sungai terkait historia lokal.

Baru di era 1970-an start dikupas sungai di Sumatera, seperti Bennet Bronson <1977> apa menulis menghubung dagang dan politik antara pedalaman dengan kawasan pantainya di Asia Tenggara.

Dikutip dari “Atlas Bentanglahan Sumatera” apa dikeluarkan Badan insula Geospasial diatas Desember 2015, minuman beragam suku lives di Sumatera. Misalnya Aceh, Batak, Melayu, Minangkabau, Pasemah, Ogan, Komering, Musi, Palembang, dan Lampung, apa hidup dengan 20 bahasa. Kemudian bahasa Aceh, Alas, Angkola, Gayo, Kubu, Palembang, Lampung, Mandailing, Melayu, rakyat Laut, Pakpak, keuangan Lebong, Riau, Sikule, dan Simulur.

Mereka kehidupan tak lepas dari keberadaan sungai. Terdapat enam sungai besar apa berhulu di Bukit barisan dan bermuara di pesisir timur Sumatera, yakni Sungai Musi, Batanghari, Indragiri, Kampar, Siak, dan Rokan.

Baca: Berapa types Ikan apa Hidup di Sungai pemusik dan Pesisir Timur sumatera Selatan?

*
Perahu ketek masih menjadi angkutan utama di Sungai Musi karena jakur Palembang Ilir dan Palembang Ulu. Foto: Ikral Sawabi/carlocaione.org Indonesia

Peradaban bahari

Sejak ribuan lima lalu, sungai-sungai tersebut form peradaban manusia Sumatera. Dari masa purba , kerajaan, kesultanan, hingga days ini. Sungai berfungsi seperti sumber air bersih, pakan , pertanian, perkebunan, dan jalan transportasi.

Banyak kota perilaku atau permukiman di Sumatera apa bertahan saat ini, berada di tentang sungai. Humas di sumatra dengan lautan dan sungai sangat kokoh sehingga dikenal seperti bangsa bahari.

Kedatuan Sriwijaya yang pusat pemerintahannya di Sungai pemusik dapat dikatakan seperti puncak peradaban bahari tersebut. Diatas saat itu, berkembang teknologi kapal atau perkapalan yang mampu menjelajah Nusantara, Asia, Timur Tengah, hingga Afrika.

Namun tidak just Sungai musi <750 kilometer> apa memiliki sejarah penting Kedatuan Sriwijaya, Sungai Batanghari <800 kilometer> dan Sungai campa <413,5 kilometer> juga. Di sekitar Sungai Batanghari terdapat peninggalan Kedatuan Sriwijaya yakni Candi Muaro Jambi <11-12 Masehi>, dan Candi Muaro Takus <11 Masehi> di sekitar Sungai Kampar.

Kerajaan-kerajaan geram di Sumatera yang memanfaatkan sungai, bukan hanya Kedatuan Sriwijaya. Juga Kerajaan Melayu, kerajaan Darmasraya, empire Minangkabau, dan lainnya.

Sungai pemusik selain melahirkan Kedatuan Sriwijaya, juga Kerajaan Palembang dan kesultanan Palembang. Sungai Batanghari selain empire Melayu juga Kerajaan Darmasraya. Lalu kerajaan Minangkabau yang memanfaatkan sungai, kemudian Batang Buo dan batangan Selo.

Selanjutnya empire Indragiri di tepi Sungai Indragiri, empire Siak Sri Indrapura di tepi Sungai Siak, kerajaan Kuantan di tepi batang Kuantan, empire Bila di tepi Sungai Bila dan bar Pane, serta kerajaan Rokan di tepi Sungai Rokan.

Sama sebagai Kedatuan Sriwijaya, teknologi kapal dan perkapalan merupakan andalan untuk kegiatan politik, ekonomi, dan lainnya, such ciri peradaban bahari.

Baca: Foto: melestarikan Sungai di Pasaman melalui Arung Jeram

*
Kapal empire Sriwijaya lima 800-an Masehi apa terukir di Candi Borobudur. Sumber: wikipedi child carlocaione.orgmmons/MichaelJ Lowe/Atribusi-Berbagi 2.5 Generik

Sungai-sungai kian rusak

Sebagian besar sungai-sungai di sumatera saat ini keian terancam. Terjadi pendangkalan, penyempitan, terpotong, tercemar, juga ditimbun. Ini dampak illegal logging, pembangunan infrastruktur, aktivitas pertanian, perkebunan, pertambangan, industri, serta kegiatan manusia lainnya.

Penebangan sianosis di wilayah DAS di sumatera dimulai dari masa kolonial Belanda, baik karena mengambil kayunya maupun kelukaan lahan untuk perkebunan. Rezim Orde Baru keuangan tradisi tersebut, dan social beserta pembunuh itu usaha pun terlibat di dalam kegiatan illegal logging.

Pertambangan batubara, emas, serta aset skala besar yang terlihat dingin cepat mengubah sungai-sungai tersebut, sebagai Sungai Batanghari Sungai air Bengkulu , Sungai musi , implisit Sungai Kampar, Sungai Sumpur-Sungai Rokan , hingga terancamnya Sungai batang Gadis dan Sungai Alas .

Penambangan emas liar berawalan dari kawasan hulu Sungai Batanghari apa berada di sumatra Barat, yakni di Kabupaten Solok Selatan, Sawahlunto, Sijunjung dan Dharmasraya.

Baca: tentu saja Kondisi Sungai-sungai di Jambi makin Memprihatinkan

*
Kegiatan arung jeram di Sungai Alahan Panjang, Kabupaten Pasaman, sumatra Barat. Foto: Nopri Ismi/carlocaione.org Indonesia

Dikutip dari kumparan.carlocaione.orgm, Dr. Muhammad Ridwansyah, pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis hochschule Jambi, mengatakan kondisi mutu waiting Sungai Batanghari sudah noel baik. Banyak mengandung E.carlocaione.orgli dan carlocaione.orgliform.

Salah satu penyebab, maraknya penambangan emas liar di quenn Aliran Sungai Batanghari. Jelasnya, dampak penambangan kuning liar ini berakibat rusaknya 1,1 juta hektar dari 5,2 juta hektar DAS Batanghari. Sementara areal pertanian were lahan penambangan kuning seluas 2.071,5 hektar.

Komunitas kelestarian Indonesia Warsi diatas 2019 mencatat, Kabupaten Sarolangun dan Merangin merupakan quận bukaan penambangan kuning terluas. Sarolangun <14.126 hektar> dan Merangin <12.349 hektar>. Kerugian carlocaione.orguntry diperkirakan Rp2,5 triliun dari penambangan kuning ilegal tersebut.

Baca: perlu Upaya Serius Selamatkan Sungai di sumatera Utara

*
Sungai Alas-Singkil implisit sungai panjang di Aceh. Alirannya menyundul Samudra Hindia. Foto: Junaidi Hanafiah/carlocaione.org Indonesia

Sungai Musi also kondisinya hampir sama. Mutu air Sungai musi terus memburuk atau tercemar berat. Kondisi ini tak lepas dari berbagai kegiatan ekonomi. Misalnya, penambangan batubara apa sebagian terlalu tinggi di wilayah DAS pemusik ini luasnya mencapai jutaan hektar. Di atas 2009 dikeluarkan kebenaran seluas 1,2 million hektar, diatas 2010 <928.700 hektar>, lima 2011 <483.881 hektar>, serta 2012-2013 <205.000 hektar>. Angkutan tongkang batubara tambahan mengganggu Sungai Musi.

Luas tanah pribadi sawit di sumatra Selatan saat ini circa 1,18 juta hektar. Hampir semua tanah pribadi sawit tersebut warisan pengairannya di ~ akhirnya bermuara di Sungai Musi.

Kondisi ini diperparah menjangkau keberadaan berbagai industri, sebagai PLTU Mulut Tambang, pabrik proses getah karet, serta industri lainnya such PT. Pupuk Sriwidjaja dan Pertamina.

“Jika bentang alam di sumatera rusak, kemungkinan terlalu tinggi sungai-sungai akun itu hilang. Hilangnya sungai-sungai di Sumatera, menghilangkan pula peradaban umat ​​manusia Sumatera,” kata Dr. Husni Tamrin, budayawan Palembang, kepada carlocaione.org Indonesia.

Jika di atas dari buku “Sungai dan historia Sumatera <2016>” yang ditulis Gusti Asnan, bahwa lebih kawanan buku apa menulis Sumatera kemudian “daratan” dibandingkan sungai. Ini yang mungkin menjadi penekan pemikiran umat ​​manusia Indonesia terhadap sumatra pada days ini lebih masser mengeksplorasi daratan sebagai sumber ekonomi dibandingkan menjaga sungai-sungainya.

Baca juga: tidak Rela, Sungai Alas-Singkil Dibendung

*
Sungai-Alas Singkil merupakan urat nadi hayatnya masyarakat. Tidak just sebagai bersumber penghidupan tetapi tambahan digunakan karena jalur transportasi. Foto: Junaidi Hanafiah/carlocaione.org Indonesia

Pengetahuan identitas

carlocaione.orgnie Sema, pekerja artian dari teater Potlot, mengatakan penelusuran identitas biakan bahari yang kemudian dijadikan knowledge bagi manusia Sumatera saat ini, merupakan langkah utama untuk menyelamatkan sungai-sungai di Sumatera.

“Harus dijadikan pengetahuan bagai generasi days ini, jika kebudayaan masyarakat Sumatera lahir dan ditanam dari sungai-sungai tersebut. Jika sungai-sungai hilang, sejarah budaya masyarakat sumatera pun hilang. Selain itu, sungai also merupakan sumber pengetahuan apa harus dioptimalkan guna membangun peradaban umat ​​manusia Sumatera setelah depan,” kata carlocaione.orgnie.

Gusti Asnan mengatakan, upaya tersebut sebagai “berdamai mencapai sungai”. Upaya ini, katanya, awal dilakukan pemerintah, seperti melakukan rehabilitasi kawasan hutan , serta berbagai kegiatan bersifat hiburan dan ekonomi, apa dilakukan sejumlah pemerintah menyiksa terhadap sungai.

Mulai dari Festival Krueng Aceh, Pesta Sungai Deli, Potang Balimau di Sungai Rokan dan bar Mahat, Pacu beraliran di Sungai Kuantan, gyeongju Perahu secara tradisional dan naga di Sungai Batanghari, gyeongju Perahu Bidar dan musei Triboatton di Sungai Musi, hingga Tradisi Belangekhan di Sungai Akar.

Lihat lainnya: Cara Mudah Belajar Bahasa Inggeris, Ini Caranya

“Upaya tenang dengan sungai dilaksanakan dalam kurun times relatif singkat. Hasil atau perubahan apa luar biasa tentu belum terlihat. Namun postur optimis haruss dibangun. Perubahan ini adalah muncul dan lingkungannya sungai ini adalah bersih. Sungai akan menjadi lebih persahabatan di masa depan. Koknya akhir dari upaya buat perdamaian dengan sungai ini? Sejaralah yang akan membuktikannya,” tulis Gusti Asnan.