Sudah hampir sepuluh five Ambe terbaring di sumbung | Ambe has been lie on height of the casket for practically ten year now


*

Fiction | Indonesia, Tana Toraja, funerals, shame, brief fiction, tourism, tradition, translation, hike ghost march 12, 2021

Editor’s Note: Today’s quick fiction is component of a notebook of Lullabies released by the Transpacific literature Project. Each piece of the notebook is paired with a pencil drawing by the artist Trương Công Tùng. Review the various other Lullabies in this notebook here.

Anda sedang menonton: Roh anak kecil yang meninggal dunia

Click to hear to and read Norman Erikson Pasaribu’s english translation

Ambe Masih Sakit

Listen come writer Emil amir read great an excerpt that the Bahasa Indonesia

Di kampungku, Tana Toraja, aura kematian sering kali berembus such angin. Jika lampu secarik bahan putih melambai di halaman tongkonan, menyertainya pertanda ada orang yang masih hidup meski cantik mati, “to makula”1. Di sini, kematian dirayakan dengan biaya yang tak sedikit. Inilah akibatnya.

Sudah hampir sepuluh lima Ambe2 terbaring di sumbung3, seolah menanti upacara rambu solo4 yang tak kunjung dilaksanakan oleh sanak keluarga. Sebab, tak ada dana atau belum dan jauh dari mencukupi walau kita tengah mengupayakannya. Hingga hari ini.

Pagi tak another halimun. Kulihat Indo5 sedang sarapan dengan Ambe apa masih sakit, terbujur kaku, rebah di dada pembaringan. Nyawanya menjelma arwah, tapi militer tinggal kendati noel menyatu menjangkau jasad. Menderitakah ia dulu bombo6?

“Selamat pagi, Ambe. Aku mau berangkat.”

Cahaya matahari, apa bangkit menembus celah dinding Tongkonan, menimpa sikap Ambe yang susut dan pakaian ukurannya tampak berdebu.

“Hati-hati, Anakku. Harapan dalle7-mu hari ini berkah. Berkat dari langit.” hadiah Indo kemudian doa.

Sering kulihat rona wajahnya tak ada duka meski ia sudah lama berkabung. Mungkin karena itu hatinya tak lagi berkabut. Menjalani days dengan senang walau keadaan sebagai ini. Ia mengantar kepergianku sampai depan pintu. Aku tahu, ia selalu menaruh harap agar aku cepat dapat uang karena upacara wafatnya Ambe. Letihkah Indo perawat Ambe?

Cuma Tongkonan8 ini yang kami punya atau apa tersisa. Indo hanya istri senin Ambe. Katanya, dulu kerumunan kerabat noël setuju ketika mereka menikah dan kakak-kakak tiriku menerima dengan syarat menuntut pembagian harta sebagai ahli waris mendiang medang mereka. Sekarang, Ambe tak pribadi harta peninggalan, bahkan untuk perayaan kematiannya sendiri. Anak-anaknya terdahulu pun kemudian tak peduli. Tinggallah aku dan Indo apa menanggung beban. Berat, siapa tahu sampai ketika kami mampu menahan.

Aku pulang membawa hasil yang lebih dari konvensional walau aku noël menjadi guide. Lumayan. Ukir-ukiran aku hampir habis dan beberapa kertas tenunan Indo laku. Dibeli malalui turis ekstratritorial dan dipum yang lalu lalang. Acibe masih siang meski cantik menjelang sore. Dan, aku mendapatkan kejutan kecil.

Margaretha Sua mendatangi berkunjung. Dari Makale usai Rantepao menempuh jarak yang tak jauh. Ia feminin mamasa dan sudah enim pegawai. Akhir-akhir ini aku jarang bertemu dengannya. Kami noël sering bersama usai ia pindah mengikuti orangtuanya. Kalian duduk di kolong Alang9. Alih-alih berangkat rindu, wajahnya malah mendung bawa kabar tak baik.

“Upta, dialah ingin langsung melamarku,” segan wanita itu berucap. Bibirnya sebagai bunga yang kusuka, tapi ia mengeluarkan sengat.

“Kau mau menerimanya?” Aku collected perasaanku apa tadi berhamburan untuk mengatakan itu.

“Aku cuma dikasih waktu sedikit untuk berpikir,” ujarnya pelan dan tergugu, barangkali isak.

“Etha, bilang saja kalau kita just bisa sampai di sini.” Aku terempas such udara sisa di hidungnya.

Margaretha Sua menatapku kisruh, “Aku noël mau enim biarawati.”

Ia terlalu dirasuki cerita tantenya yang hidup tiriskan tunggal lantaran ditinggalkan kekasihnya apa tak mau menunggu. Upacara kematian bapaknya, kakek Margaretha Sua, tertunda lama. Kini banci di hadapanku undang berlomba dengan wafatnya neneknya.

“Maafkan aku.”

“Aku apa minta maaf.”

Margaretha Sua pergi, pelan-pelan mengabur dari penglihatanku ditelan tikungan jalan. Could ia membawa luka atau lega? Ia seperti tidak setia.

Petang di ambang hari. Senja melumuri langit. Seketika bayangan gelap datang dari barat. Sementara aku pusat memandang di bukit utara itu apa dipenuhi tebing-tebing. Gunung-gunung rock yang di kakinya rimbun betrol rimba. Semak-semak raksasa apa tak habis untuk dikuak.

Mungkin tuan menjelma woods hingga belantara akun itu dihuni arwah-arwah. Segala yang sudah mati hidup dot seperti intisari baka. Rindukah Ambe karena ke sana such tomembali puang10? Bergabung mencapai tau-tau11 yang asyik bertengger atau bernaung di pohon-pohon pengungsi ketika malam tiba bagai ulang masa kanaknya. Seperti apakah kehidupan di puya12?

Dan, sampai while aku harus menanggung? Tabunganku tidak akan genap sekeras what pun aku berusaha. Maafkan aku, Ambe, bila aku mengeluh. Aku sedang patah hati, bisa putus asa. Indo noël bisa dibujuk.

“Adalah larangan does rambu tuka13, apalagi rampanan kappa14, apabila rambu solo belum diselenggarakan. Ambemu masih sakit. Rohnya masih terkatung-katung di intisari sana.” Kata Indo seolah tetaptiongkok kukuh wasiat Ambe. Tapi, aku menerka ini kemauannya.

“Kenapa? Apakah menyertainya menyalahi aluk15?” Aku tak tahu what aku sedang menggugat adat apa aku yakini sendiri.

“Itu kesamaan saja kau meminta hakmu tidak punya menunaikan kewajibanmu such anak.” Indo seolah berkata, tunjukkan baktimu.

“Dulu Ambe pernah bilang padaku, lives itu karena mati. Dunia ini secara spasial persinggahan dan sekarat adalah pintu ke puya, di kehidupan yang sesungguhnya,” jelasku punya maksud

“Iya, menemani itu betul. Lantas?” kejar Indo mencium niatku.

“Kata Ambe carilah bekal, dalle karena mati. Biar kelak noël menyusahkan keturunanmu. Seharusnya Ambe juga begitu.” Aku tertunduk sebab lancang, ada sesal yang hinggap. Aku tak berani melihat Indo yang mungkin sentral membelalakkan mata, tak menyangka.

“Indo merasa noël pernah kurang mengajarimu, Upta.” Ia memanggil namaku seakan aku ndak anaknya lagi. Dapat kudengar hela embusnya kecewa, “Ambemu harus kunci buat membuka pintu setelah puya, rambu solo. Perjalanan nanti sana jauh sekali diperlukan kendaraan, tedong bonga16, agar cepat sampai.”

“Beberapa babi dan sebagai kerbau aku kira siap cukup, Indo. Tedong bonga ratusan juta harganya. Kita mana sanggup.”

“Kau ini! Ambemu keturunan tana bulaan17. Bukan orang sembarangan. Kalau cuma itu, cantik dari dulu Indo melakukan rambu solo. Tak harus menunggu bertahun-tahun. Dengar, Upta. Ini ~ no asal upacara, tapi martabat apa mesti dijunjung. Kau tahu itu! Ambemu menjadi tersesat buat ulahmu.” suara Indo melangit seperti bulan yang pongah.

“Aku lebih bangga kau merantau ke Papua. Dot kau bisa ~ dapat uang kerumunan ketimbang di sini. Ataukah kau mau sekarat di sana, terserah.” Indo satrat terus sebab aku seperti patung, major batu. Indo tahu sekali tabiatku, kalau ada mau membungkam tapi rusuh.

“Kau noël bakal ada di dunia ini kalau tak ada Ambemu apa meminta kau dilahirkan.” Indo berkata tega. Napasnya panas. Kubayangkan, dulu could ia hendak menggugurkan dan menguburkanku di pohon Tarra18, tapi dicegah melalui Ambe. Keberadaanku kau tampik, benarkah kabar itu?

“Matahari siang dan bulan malam tidak pernah bertemu. Kalau sampai menyertainya terjadi, menemani itu artinya kiamat! Kau boleh menikah, tapi bukan di tongkonan ini dan tidak punya restu dariku,” cetusnya mengancam. Indo memukau kakinya pergi usai sumbung, kebiasaannya sesenggukan di sana. Mondon Ambe dan nasib. Ataukah masa lalu apa berusaha ia tutup dan simpan?

Malam benar-benar rindang. Beberapa kerabat dan bertetangga datang. Kami main kartu sampai suntuk. Aku menyuguhkan kopi dan penganan seadanya. Mereka membawa ballo19. Sunyi dingin meruap.

“Upta Liman, menyertainya bukan penuh bebanmu dan keputusan ada di groep kakak-kakakmu apa telah abai di perantauan,” ujar Tato Randa bijak. Ia pamanku dari pihak Indo dan teman Ambe kemudian pemangku adat.

“Seperti ndak orang Toraja saja mereka itu. Mabuk di kampung people sampai terlupakan kampung sendiri,” imbuh Urru, teman seprofesiku apa sudah oleng. Entah berapa gelas tuak ia tenggak.

“Kewajibanmu cuma mengingatkan meski kau harus beruang belasungkawa apa menunda kegembiraan di tongkonan ini,” lanjut Tato Randa. Menimbulkan tanya di benakku yang keruh. Adakah rahasia yang kalian taruh?

“Kecuali kalau Indomu rela memutus menghubung dengan membayar biaya salah yang tak seberapa,” celetuk Tante Ully tak dinyana. Tanteku ini perempuan tua yang agak go pikirannya. Ia melenggang ke mendapat isyarat diam dari apa hadir selain aku, pergi menemani Indo di kamar. Matanya bicara padaku.

Kami kembali melanjutkan berembuk, tapi aku noël berminat lagi. Mereka membujuk.

“Kontaklah saudara-saudaramu itu untuk segera pulang. Urusan ini harus lekas dibereskan. Kami here sudah sudah memberikan bantuan. Nanti kami kirim proposal nanti pemda buat diikutkan programme pariwisata natal dan tahun Baru. Babi-babi dan kerbau akan kami sumbangkan. Kurangnya kalian usahakanlah.”

Ah, bantuan ini adalah utang moral. Bakal konkret jika noël bisa mengembalikan, selagi kelak middle mereka ada yang meninggal. Keseimbangan atau lebih dan aib ini adalah aku tanggung bila tak mampu. Masih sakralkah upacara perayaan kematian ini? Mereka pamit.

“Indomu berat berdamai menjangkau masa lalunya. Dulu ia berbuat dosa dan search selamat. Orang-orang kampung tak enim mengusirnya. Ketahuilah dari silsilah,” bisik Tante Ully sebelum pulang. Selain kakak-kakak tiriku, apa aku tahu Ambe pernah nikah dengan janda kaya punya satu anak apa tak pernah kulihat dan noel kutahu keberadaannya.

Ambe, dari manakah aku mulailah merunut? Kini aku berbaring lelap di sebelahmu. Hendak menerima jawab.

“Kenapa Ambe menikahi Indo?” tanyaku seakan rohnya masih bersemayam batin tubuh.

“Karena aku mencintai Indomu.”

Lama kutatap Ambe. Kuperhatikan saksama.

“Apakah Indo mencintai Ambe?”

Sebab ia terlalu lansia buat jadi Ambe.

“Tanyakan itu di atas Indomu.”

Ia seolah tersenyum serupa sunggingan setiap orang yang noel punya gigi. Aku terjaga.

Pagiku dibuka mencapai kedatangan tamu. Ribut, suara Indo penuh sesak di page ketika aku menuruni tangga. Lelaki itu lagaknya sebagai turis bergaul dengan badan tambun. Membawa perempuan apa menggendong anak kecil. Berbadan Indo bergetar, kusut dan berantakan, menghalanginya masuk.

“Aku tambahan punya daratkan atas rumah tongkonan ini,” tuntutnya tanpa melepas kacamata riben di wajahnya.

“Kamu siapa?” aku maju di peningkatan Indo.

“Aku anak dulu dari Indoku. Istri pertama Ambemu. Aku mau tinggal di Tongkonan ini.” Jelasnya beruntun.

Lihat lainnya: Cara Membersihkan Kerak Kloset Duduk ? Gunakan 5 Bahan Ini Gunakan 5 Bahan Ini

“Rantedoping, kau tretan dan tak ada kabar. Biar setelah itu adat apa menentukan. Kau pernah melanjutkan dari sini,” Indo bersikeras.

“Itu alasanmu menahanku?”

“Bukan. Untuk Upta Liman, anakmu.”

Baru kulihat airmata Indo menetes. Lelaki itu menatapku nanap dan aku terlongo saat Indo hampir rebah pingsan. Kupeluk Indo yang begitu ringkih.